Langit mulai merona keemasan saat fajar perlahan menyibak tirai malam. Dari ketinggian, Lynx melayang di atas angkasa, tubuhnya tenang seperti awan yang menyentuh batas langit. Di bawah sana, rumah Leena tampak kecil dan damai, dilingkupi oleh cahaya mentari pagi yang baru menembus cakrawala.

Angin menyapu lembut wajahnya. Ia menghela napas panjang, merasa lega karena tanpa di sengaja, mereka berhasil menemukan dunia asli mereka. Lynx lalu menunduk sejenak, mengaliri energi qi ke artefak kecil di sabuknya.

Seketika, serat-serat hitam menyerupai logam hidup menjalar dari sabuk itu, merayap cepat menyelimuti tubuhnya. Seperti cairan berkesadaran, serat itu membentuk lapisan pelindung fleksibel namun kuat, mengikuti lekuk tubuhnya dengan presisi. Sebuah helm membentuk diri di kepalanya, visornya memancarkan cahaya biru redup yang terlihat tajam dan dingin.

Kini, pakaian tempurnya telah aktif sepenuhnya menutupi sosoknya. Dia selalu menggunakannya untuk menyamarkan identitasnya. Ia berencana untuk terbang dengan santai sehingga tak ingin siapa pun melihat wajahnya saat terbang atau kehebohan akan terjadi. Ini adalah saatnya menikmati dunia lamanya… Menikmati terbang diatasnya tanpa menggunakan pesawat terbang.

Lynx mengangkat wajahnya, menatap langit timur di mana mentari perlahan merangkak naik. Cahaya hangat menyentuh visornya. Ia memejamkan mata sejenak, lalu membuka kembali dengan penuh ketenangan.

"Rumahku sebelah mana? Tanpa GPS atau meninggalkan jejak, aku tidak tahu dimana arah rumahku." batinnya.

"Sarinda… kalau tak salah, seharusnya berada di arah utara dari Umbusari, melewati kota Sabaya dan melalui lautan." gumamnya setelah mengingat peta dunia saat di sekolah dahulu.

Ia memposisikan tubuhnya, lalu menyesuaikan arah berdasarkan letak matahari. Begitu arah ditetapkan, ia melesat.

Namun, tak seperti biasanya, ia tidak memacu kecepatannya. Meski tahu dengan kekuatan terbangnya, Sarinda bisa ia capai dalam hitungan detik, kali ini ia membiarkan tubuhnya melayang perlahan. Ia ingin menikmati pemandangan dunia ini.

Tak lama, dia menyadari dunianya ternyata terasa lebih berat, berbeda dengan benua Tianzhou.

"Kurasa ini sebabnya diduniaku tidak ada Kultivator, energi spiritual sangat tipis di sini, bahkan nyaris tidak ada."

Meski begitu, Lynx tidak merasa khawatir. Tanpa energi spiritual, tubuhnya sudah sangat kuat, selain itu tubuhnya dapat menciptakan energi sendiri tanpa henti jika segel dilepas.

Beberapa menit kemudian, ia melihat sesuatu yang familiar.

Mata Lynx membelalak. Area itu… rumah-rumah yang berjajar, ladang-ladang luas… semuanya begitu akrab. "Sarinda…"

Lynx yakin waktu yang dilaluinya seharusnya tidak secepat ini. Dia memang ada melihat lautan, tapi dia tidak ingat bagaimana dia bisa melewatinya dengan cepat.

Tanpa ragu, ia menukik perlahan, lalu mendarat tenang di tepi sawah yang membentang di belakang rumahnya. Embun pagi menyentuh ujung sepatunya, dan aroma khas tanah sawah menyambutnya, bau yang selama ini hanya ia temui dalam kenangan.

Tak jauh dari sana, terdapat bangunan sejenis pendopo berdiri dibelakang sebuah rumah. Suara denting gamelan terdengar halus dari arah pendopo. Lynx melangkah pelan, mendekat melalui pagar belakang rumah.

Di dalam, sosok lelaki tua duduk bersila di depan salah satu alat gamelan yang terbuat dari bambu. Tangannya menari lincah di atas bilah-bilah bambu. Irama yang ia mainkan tenang dan dalam, menikmati alunan musik merdu yang keluar.

Lynx terdiam. Sosok itu… ayahnya.

Rambut pria itu sudah mulai beruban, tetapi tubuhnya masih tegap. Senyum tipis tergambar di wajahnya. Ia memainkan musik yang sangat dikenal Lynx, lagu yang selalu dimainkan ayahnya setiap kali ia ingin menenangkan diri.

Lynx nyaris melangkah maju, namun berhenti.

"Ibu mungkin sedang memasak di dapur," gumamnya pelan, menahan rasa hangat yang menyeruak di dadanya.

Ia berdiri di dekat bangunan itu, diam, menatap sosok ayahnya yang terus bermain… tanpa tahu bahwa putranya kini telah kembali.

Dan pagi itu, untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun lalu, dunia terasa benar-benar nyata bagi Lynx.

Lynx berdiri di tepi bangunan gamelan itu sejenak, membiarkan rasa rindu mengalir pelan dalam dirinya. Ia menonaktifkan pakaian tempurnya, membiarkan serat-serat logam itu kembali meresap ke dalam sabuknya. Tubuhnya kini kembali mengenakan pakaian jubah khas kultivator, karena dia belum sempat mencari pakaian biasa yang selalu dikenakan penduduk di dunianya.

Ia melangkah perlahan, suaranya keluar pelan namun tegas. "Bapak…"

Pak Parnen sontak menghentikan permainan gamelannya. Jemarinya membeku di atas bilah logam, tubuhnya perlahan berbalik ke arah suara yang telah lama tak ia dengar. Saat pandangannya bertemu dengan sosok di ambang pintu, matanya melebar, seolah tak percaya.

"Lynx…" suaranya tercekat, lalu berubah menjadi seruan penuh emosi. "Lynx!"

Suara itu menggema sampai ke dalam rumah. Dari dapur, dua sosok perempuan bergegas keluar. Ibu Lynx dengan celemek masih tergantung di pinggangnya, dan adik perempuannya, Dwi, yang kini sudah tampak lebih dewasa dari yang terakhir Lynx ingat.

Begitu melihat wajah putra dan kakak mereka, tak ada kata yang keluar, hanya pelukan.

Mereka bertiga merangkul Lynx erat-erat. Tangis meledak tanpa permisi, isak bahagia yang tercampur antara rindu dan rasa syukur. Lynx, yang selama ini dikenal tegar, kini tak mampu menahan air matanya sendiri. Ia membalas pelukan itu, seperti ingin meyakinkan dirinya bahwa semua ini nyata.

Setelah beberapa saat, sang ibu menyeka air matanya dan berkata sambil tersenyum, "Ayo makan dulu. Kebetulan ibu sedang masak makanan kesukaanmu."

Dwi segera merangkul tangan Lynx, kepalanya menyandar manja di lengan kakaknya. "Kakak jangan pergi tinggalkan dwi lagi, ya."

Mereka masuk ke rumah, ke ruang makan yang dipenuhi aroma yang sangat dikenal Lynx. Makanan kesukaannya, sambal hati ayam, gorengan ikan nila, nasi panas, dan lalapan segar—tersaji di atas meja kaca yang masih mengkilap meski telah bertahun digunakan.

Mereka duduk bersama. Suasana begitu hangat. Tawa kecil dari Dwi, candaan dari Pak Parnen, senyum tulus dari sang ibu. Lynx merasa waktu berhenti di sini—di tengah keluarganya.

Namun ketenangan itu tak berlangsung lama.

Sebuah suara batuk tua terdengar dari luar rumah. Sosok kakek Lynx muncul dari ambang pintu, tubuhnya bungkuk namun matanya masih tajam. Tanpa berkata apa-apa, ia berjalan pelan lalu langsung memeluk Lynx erat-erat.

"Cucuku…" gumam sang kakek, suaranya bergetar.

"Kakek..." Lynx membalas pelukan kakek.

Lynx memejamkan mata, menahan air mata yang hampir jatuh lagi. Namun di balik kehangatan itu, pikirannya tergelitik oleh satu hal, kondisi kakeknya. Ia ingat, sebelum menghilang ke dunia lain, kakeknya menderita penyakit yang membuatnya kesulitan bergerak.

"Dengan kemampuanku, aku pasti bisa menyembuhkan kakekku." batin Lynx.

Ia mengaktifkan mata langitnya untuk melihat kondisi kakeknya dan mencari cara untuk menyembuhkannya.

Namun begitu pandangannya menembus tubuh kakeknya, wajah Lynx langsung berubah.

Tak ada organ. Tak ada tulang. Tak ada darah. Yang dilihatnya hanyalah mahluk hitam pekat yang menggeliat seperti lumpur hidup.

Lynx memutar pandangan. Ibunya. Adiknya. Ayahnya.

Semua… bukan manusia.

Tubuhnya kaku. Jantungnya berdetak keras. Dengan mata langitnya, dia melihat dunia disekitarnya hanya ada asap ungu dan mahluk menjijikan dalam jumlah tidak terhingga. Bahkan tanpa dia sadari, tubuhnya sudah dililit oleh mahluk tersebut.

Makhluk-makhluk itu berbentuk lumpur hitam, berlendir. Mata-mata berlapis-lapis tumbuh tak beraturan di tubuh mereka, mulut-mulut lebar penuh gigi dan liur menganga lebar. Dari tubuh mereka keluar gas berwarna ungu. Mereka semua menatap Lynx sambil menyeringai menyeramkan. Tubuh mereka bagaikan tentakel menempel menghisap energi kehidupan Lynx.

"Asap ungu…" gumam Lynx. Ia teringat sensasi pusing yang muncul setelah keluar dari portal dimensi, juga saat ia terbang dan merasa dunia ini aneh. "Ini… Sepertinya ini adalah ilusi. Dan kabut itu penyebabnya. Itu juga sebabnya aku bisa tiba di Sarinda dengan cepat tanpa mengingat tempat yang sudah ku lalui."

Lynx segera mengambil satu langkah mundur, lalu ia menghentak tanah. Energi sakti meledak dari tubuhnya, menyapu asap ungu yang melingkupi dirinya. Kabut itu berputar, lalu terusir, memperlihatkan bentuk asli dunia yang ia injak, tanah tandus, langit keunguan, dan makhluk-makhluk pemangsa ilusi.

"Berani kau memanipulasi pikiranku?" geram Lynx, wajahnya mengeras. Kenyataan yang sangat menyakitkan.

Ia menghunus pedang kehancuran milik leluhur Xiao Tang. Bilahnya gelap berkilau, memancarkan aura kematian.

Sekali tebasan, makhluk-makhluk itu terbelah, memekik kesakitan namun tidak terbunuh. Setiap dipotong, tubuh mereka terlihat mencair lalu tumbuh semakin banyak, seolah setiap bagian yang terpotong akan menjadi mahluk baru.

Mereka menyerang, tapi Lynx menari di antara serangan, menebas, menghancurkan, membakar tanpa lelah. Dia merasa sangat marah karena sudah di permainkan.

"Leena!" serunya panik.

